Naiknya harga kopi arabika global tidak akan membantu petani Indonesia

Jakarta, 20 Juni (Jakarta Post/ANN): Harga kopi Arabika global naik 16 persen year-on-year (yoi) menjadi $3,63 per kilo pada kuartal pertama 2021. Data bank, namun petani kopi Indonesia tidak melihat adanya peningkatan pendapatan.

Harga kopi Arabika dalam negeri yang ditetapkan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) turun 40% dari Rp 60.000 menjadi Rp 36.000 pada 1 April 2020 dan 1 April 2021.

Sedikit pulih dari level tersebut dan berada di Rp 52.000 per kg pada hari Jumat.

“Kurang [domestic] harga kopi arabika [over the past year] Karena kurangnya kebutuhan [consumption] Tempat-tempat seperti kafe telah secara signifikan mengurangi jumlah pengunjung ke tempat-tempat seperti epidemi, ”kata Sekretaris AEKI Miftahul Chrome kepada Jakarta Post dalam email pada hari Rabu.

Sementara harga kopi robusta sangat stabil.

Komoditas ini berpindah tangan pada hari Rabu di Rs 27.000 per kg setelah naik dari bulan Maret. Miftahole bertanggung jawab atas stabilitas harga kopi Robusta, karena jenis ini sering digunakan untuk produk pra-paket seperti kopi sachet, yang kurang rentan terhadap infeksi.

Puspidaningci Sutrisno, produsen dan pengolah kopi Jawa Barat dari Kebun Aqua, mengatakan kepada Post pada hari Senin bahwa epidemi adalah salah satu alasan harga kopi terus turun di daerahnya.

Untuk pengolah kopi skala kecil dan menengah, permintaan dalam negeri akan biji kopi hijau atau biji sangrai menurun tajam sehingga menyebabkan turunnya harga komoditas, kata Puspitaninkih.

Dia mengatakan setiap usaha pengolahan kacang hijau tidak bisa menjualnya dalam bentuk olahan ke pengguna akhir dalam negeri, harus dijual ke eksportir dalam bentuk mentah, mereka hanya menawarkan harga terendah.

Fikri Pratama, seorang petani kopi dari Jawa Barat, mengatakan kepada Post pada hari Senin bahwa banyak petani menimbun kacang hijau karena permintaan akan penyakit tersebut menurun.

Kacang yang disimpan dalam keadaan itu dapat dijual dan diproses nanti. Sejauh ini, produksi kopi ceri dan biji kopi segar belum terkena dampak negatif dari wabah tersebut, jelas Puspidaninkasi.

Persaingan harga yang berbahaya adalah hal biasa di antara prosesor, dan produsen telah memaksakan diri untuk berlomba, katanya.

Studi terbaru tentang praktik pertanian yang dilakukan oleh World Agroforestry (ICRAF) di Kabupaten Baker Alam, Sumatera Utara, menemukan bahwa kepatuhan terhadap praktik agronomi geopolitik meningkatkan efisiensi dalam produksi kopi dan meningkatkan pendapatan rumah tangga bagi keluarga petani.

Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Indonesia mencapai rata-rata hasil kopi hanya 782 kg per hektar pada 2019, sepertiga di antaranya bisa menghasilkan 2.082 kg per hektar.

Data Badan Pusat Statistik (PPS) Indonesia mengekspor total kopi senilai US$371.354 ton senilai US$821 juta pada 2020, turun 7 persen dari tahun sebelumnya. Indonesia mengekspor kopi dengan harga rata-rata 2.167 per ton. – Jakarta Post / ANN

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Media SUMSELGO