Dewi Garnis, Mahasiswa Nippon Academy Jepang, 6 Bulan di Jepang Sudah Kangen Segulurung

  • Whatsapp

PALI, Sumselgo.com | Segulurung, ternyata bukan sekedar makanan biasa. Saat segulurung disajikan penuh kasih sayang, makanan khas PALI ini bisa menjadi pengikat cinta dan kerinduan. Demikian yang dirasakan oleh Dewi Garnis, mahasiswa asal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir yang sedang menuntut ilmu di negeri Jepang. Dewi, demikian ia biasa disapa, adalah salah satu penerima beasiswa dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel.

Bagi Dewi, makanan ini menjadi pengikat kerinduan dirinya kepada kampung halamannya Desa Karang Agung Kecamatan Abab. Setiap ia menyantap menu berbahan ikan, bayangan ikan toman yang menjadi khas daerahnya selalu menghiasi pelupuk matanya.

Muat Lebih

“Setiap menyantap ikan teringat segulurung. Karena Emak sangat sering memasak segulurung. Pokoknya jadi ingat emak. Lihat ikan jadi ingat segulurung dan pasti ingat emak” ujarnya masih dengan dialek Abab yang kental saat dihubungi via telepon (27/11).

Kerinduan mendalam terhadap sosok emak bagi Dewi tentu sangat beralasan. Tepat tiga bulan ia merantau ke negeri sakura, Dewi menerima kabar emak yang menjadi panutannya selama ini telah meninggal dunia.

Jauhnya jarak membuat dirinya tidak bisa memberikan penghormatan terakhir kepada ibundanya tercinta. Jepang-Indonesia tentu bukan jarak yang dekat. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa.

“Emak selalu mendidik kami untuk kuat dan mandiri. Mungkin ini cara emak memberikan pelajaran bagi kami. Bahwa kami tidak boleh cengeng dan harus tegar menghadapi kehidupan. Kalau mau maju kita harus kejam terhadap diri sendiri agar disiplin” tambah gadis manis berhijab ini.

Apalagi, menurut gadis kelahiran 27 Mei 1998 ini, kehidupan di negeri Jepang telah menempa dirinya untuk kuat dan tegar. “Disini kita harus betul-betul mandiri. Harus pandai mengatur uang, mengatur kesehatan, mengatur waktu dan mengatur diri sendiri. Pokoknya harus disiplin dan mandiri. Kita malas sedikit, maka kita akan tergilas”.

(Ist)

Dalam hal mengatur kesehatan tentu karena ia tidak ingin sakit. Namun menurut Dewi, dirinya mengatur kesehatan bukan sekedar takut sakit tidak ada yang merawat. Karena baginya ketika seseorang sakit, maka rutinitas kesehariannya akan terganggu. Sekolah dan kerja akan terbengkalai. Pelajaran dibangku kuliah ketinggalan. Dan pastinya, ia tidak bisa kerja dan pendapatannya pasti akan berkurang.

“Disini kita bekerja digaji per jam. Ketika kita terlambat atau tidak masuk, otomatis gaji yang kita terima di akhir bulan akan berkurang. Padahal gaji yang kita terima itu akan kita gunakan untuk biaya makan, sewa apartemen, asuransi dan lain-lain. Karena beasiswa kita Cuma sampai bebas biaya sekolah” jelasnya.

Memang beasiswa yang diterima Dewi adalah beasiswa biaya kuliah. Biaya hidup diberikan hanya saat dirinya belum mendapatkan tempat magang. Setelah ia diterima perusahaan untuk bekerja magang, maka secara otomatis ia harus membiayai kebutuhan hidupnya.

Sebagai pekerja magang yang tercatat di Kabushikiga Isha Gunma Furetsu Shufu-su di Provinsi Gunma Ken, sebuah perusahaan pembuat pintu, Dewi bisa mengumpulkan gaji sebesar JPY 80.000 Yen atau setara dengan Rp 9,5 juta. Dengan uang sebesar itu, Dewi mampu untuk membayar apartemen, biaya makan, biaya komunikasi, asuransi (sejenis BPJS). Bahkan selama berada di Jepang, Dewi sudah tiga kali mengirim uang untuk orang tuanya di Karang Agung.

“Karena itu, kita disini harus disiplin. Rajin bekerja dan harus pandai mengatur waktu” tegasnya.

Karena itulah, meski dalam dua tahun kuliahnya kelar. Dewi belum mau beranjak pulang ke Indonesia. Gadis penggemar kuliner ini berencana akan melanjutkan kuliah atas biaya sendiri.

“Setelah enam bulan kuliah sambil bekerja disini. Saya yakin mampu kuliah dengan biaya sendiri. Sambil kuliah sambil kerja” ujar gadis yang bercita-cita punya usaha Restoran Jepang ini.

Untuk mewujudkan cita-cita punya Restoran Jepang, kelak Dewi berencana mengambil jurusan memasak. “Kan hebat kalau ada orang PALI bikin restoran Jepang di Jakarta. Kesempatan mengenalkan segulurung kepada orang Jepang” ujarnya tertawa lepas.

Saat Hape Hilang
Untuk berangkat bekerja, dari rumah Dewi menggunakan kereta selama 20 menit. Kemudian disambung dengan menggunakan sepeda.

Beberapa stasiun kereta menyediakan sepeda yang bisa kita pinjam dengan gratis. Bisa kita pakai begitu turun dari kereta dan kita kembalikan lagi saat kembali ke stasiun tersebut. Bahkan tempatnya bekerja pun menyediakan fasilitas sepeda.

“Kita cukup memasukkan koin 100 Yen. Sepeda bisa kita bawa sepuasnya. Kemudian saat kita mengembalikan sepeda, koinnya bisa kita ambil kembali”

Namun jangan coba-coba, kita memakai sepeda orang lain tanpa izin. Meskipun hanya meminjam sebentar, kalau orang tersebut melapor ke pihak keamanan, urusan bisa panjang. Salah satu teman kuliahnya ada yang dideportasi dan dipulangkan ke negara asalnya, hanya karena membawa sepeda orang lain untuk berangkat ke kampus. Setiap sepeda yang sudah diberikan nomor register khusus memudahkan polisi untuk mencarinya.

Soal keamanan di Jepang, menurut Dewi sangat ketat dan profesional. Pernah suatu ketika, saat pulang bekerja menaruh handphone ke dalam keranjang sepedanya. Saat tiba di stasiun ia kelupaan mengambilnya kembali. Setiba di apartemen, ia baru sadar bahwa handphone nya ketinggalan.

“Waktu kutelepon menggunakan hape teman, rupanya hape saya ada sama orang China. Cuma orang itu tidak bisa bahasa Jepang. Yaa saya ikhlas saja dan terpaksa beli hape baru. Untung disini harga hape murah”

Namun setelah dua minggu, ia ditelepon kantor polisi yang memberitahu bahwa hangphone nya sudah ditemukan dan ia diminta untuk mengambil di kantor polisi.

“Saya pun mengambilnya, dan tanpa mengeluarkan uang satu yen pun. Gratis. Kapan yaa di PALI bisa seperti itu”

Dewi berharap, suatu ketika bukan hanya dirinya anak muda asal Kabupaten PALI yang menuntut ilmu di Negeri Matahari Terbit itu. “Saya berharap, adik-adik mau datang kesini untuk sekolah. Karena disini kita bisa juga bekerja. Saya sangat merasakan manfaat setelah mengikuti pola kehidupan masyarakat sini. Kalau bisa Pemkab PALI bisa mengirim pelajar kesini minimal 10 orang setiap tahun. Mangke ade kanca ngobrol base dusun. Hehee” tutupnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *